Main Article Content

Abstract

Angka kejadian anemia di Indonesia masih cukup tinggi. Data prevalensi anemia pada remaja sebesar 32%, artinya 3-4 dari 10 remaja menderita anemia. Hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan asupan gizi yang tidak optimal dan kurangnya aktifitas fisik. Kesehatan dan status gizi remaja harus dipersiapkan sejak dini, sehingga prediksi Indoonesia mendapatkan bonus demografi pada 2030 mendatang dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang produktif, kreatif dan berdaya saing. Salah satu masalah kesehatan yang menjadi fokus pemerintah adalah penanggulangan anemia pada remaja. (Riskesdas, 2018)


Salah satu masalah yang dihadapi remaja Indonesia adalah masalah gizi mikronutrien, yakni sekitar 12% remaja laki-laki dan 23% remaja perempuan mengalami anemia, yang sebagian besar disebabkan karena kekurangan zat besi. Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktifitas. Secara khusus anemia yang dialami remaja putri akan berdampak lebih serius, karena mereka adalah para calon ibu yang akan hamil dan melahirkan, sehingga memperbesar risiko kematian ibu melahirkan, bayi premature dan berat bayi lahir rendah. (Kemenkes, 2018)


Berdasarkan data yang diperoleh, Jumlah penduduk remaja yaitu 274.342 orang, Cakupan kunjungan remaja ke puskesmas pada tahun 2017 sebanyak 15,89%, masih rendah dibandingkan dengan sasaran, selain itu remaja yang mengalami anemia sebanyak 732 orang, pelayanan di klinik remaja belum optimal disebabkan karena kurangnya sosialisasi klinik remaja dan kurangnya privasi ketika melakukan konseling. Metode yang dilakukan dalam pengabdian masyarakat ini adalah memberikan pendidikan kesehatan di SMPN 10 Kota Tangerang, setelah diberikan pendidikan kesehatan sebagian besar siswa/i mengerti pentingnya mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang sesuai kebutuhan masa remaja. (Profil Kes.Kab.Tangerang, 2017)


 


Kata kunci: Remaja, Anemia, Gizi

Keywords

Remaja, Anemia, Gizi

Article Details